Selasa, 26 Oktober 2010

DASAWARSA YUVOR PALM

                  
Helloo Gank's...!!!

Salam Lestari
10 tahun sudah Organisasi kita tercinta " Yuvor Palm "...yang bertepatan juga dengan moment Nasional yaitu peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari kamis, Tanggal 28 October 2010. Bukanlah umur yang yang kecil lagi buat kita terus berkarya dan berkegiatan. Susah senang kita berjuang bersama untuk bisa menikmati keindahan dan kenikmatan yang akan kita banggakan bersama.
Selama ini kita sering diterjang Ombak, diterpah Badai...tapi kita senantiasa selalu menghadapinya dengan senyuman dan rasa persaudaraan yang kuat. yang belum tentu semua orang pada umumnya dan siswa/wi SMAN 4 Sda pada khususnya bisa merasakan kekeluargaan yang menyatukan kita dengan tali merah persaudaraan yang sangat kuat ini.
Seperti kapal yang terombang-ambing oleh Ombak dilautan kita ini, tetapi kita bukanlah Nahkoda yang amatiran. kita adalah pioner-pioner yang telah digembleng oleh Alam yang senantiasa membawa kapal menuju kesuksesannya membawa awaknya selamat sampai tujuannya.
Apakah kita akan berhenti...?,pertanyaan yang sangat     membingungkan untuk kita jawab,dilema untuk kita melihat kondisi dan situasi saat ini yang bisa dikatakan mengenaskan.
Ingatkah dengan apa yang pernah kita serukan dan nyanyikan bersama "Hakekat YVP dan Mars YVP"?

Apakah belum cukupkah untuk kita terus bertahan dan saling berpegangan tangan untuk bisa menghalau dan mengusir rasa yang terkadang mengganggu benak kita selama ini..?.
Saya hanya bisa berharap "Keep Moving"....my brother & my sister...
Yuvor Palm ada karena jerih payah kita bersama, jadi jangan biarkan nafas dan langkahnya terhenti sampai disini..
Kita akan selalu berjuang dan membela Hak kita sebagai satu kesatuan yang hidup dilingkungan SMAN 4 Sda ini.

VIVA Yuvor Palm.....!,selalu kita teriakkan sembari mencium panji berkain hijau yang menjadi lambang kebanggan kita bersama ini. kita bukan hanya sebuah sekumpulan anak2 yang tidak ada gunanya akan tetapi kita lebih dari yang "orang2 itu" anggap..
Kita adalah keluarga kita bersaudara satu sama lainnya, kita punya semuanya....INGAT..!!,."Kita adalah Keluarga. Layaknya sebuah keluarga kita akan selalu saling berkomunikasi dan saling melindungi.

   Dari semuanya itu didalam kita memperingati DASAWARSA Yuvor Palm, mari kita jadikan moment ini sebagai sebuah motivasi yang senantiasa mendobrak semangat kita untuk terus berkarya dan terus berkarya..
demi terciptanya kehidupan yang terus berkesinambungan untuk terus menjalankan roda Organisasi ini sampai tak terhingga..
Jangan sia-siakan semangat saudara kita yang telah mendahului kita untuk menghadap sang Khalik ( Alm.Puguh Heru Prasetyo/YVP.BA.0.005 semoga semua amal ibadahnya diterima disisiNYA dan senantiasa diberikan tempat yang terang nan sejahtera disana)  . secara pribadi saya sebagai direksi berharap untuk semuanya jangan sampai pernah berpikir untuk menghentikan langkahnya hanya karena terpaan Badai yang bertiup kecil di telinga kita semua sembari berbisik " Kuatkah kalian menghadapiku..?". Tunjukkan kalo kita bisa menghadapinya dengan semangat yang terus menyala dijiwa kami "Yuvor Palm is my Soul.."                                        
Kain scraf sudah dibahu, Panji YVP sudah berkibar, seragam sudah menghiasi tubuh kita semua dengan Gagahnya,..jadi hapus semua air mata, saatnya kita bangun dan bergerak untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga kita tercinta "Yuvor Palm"..

" Dirgahayu ke 10 thn YUVOR PALM ku...28 October 2010"
Tetap Jaya di Udara, Darat, dan Lautan.....Viva Yuvor Palm...!!!!!!.

Tyo'/Bmoe
YVP.BA.0.007

Minggu, 24 Oktober 2010

HUTAN BAKAU


Hutan bakau di Muara Angke, Jakarta (2007)
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitarmuara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Luas dan Penyebaran

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika.
Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).
Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.
Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Lingkungan fisik dan zonasi


Pandangan di atas dan di bawah air, dekat perakaran pohon bakau, Rhizophora sp.
Jenis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah:

Jenis tanah

Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut.
Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang.

Terpaan ombak

Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.
Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar.

Penggenangan oleh air pasang

Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya; bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.
Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove; yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering.
Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.
Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka(Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah(Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).
Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

Bentuk-bentuk adaptasi

Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau, tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasimangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.


Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai.
Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigendari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.
Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.
Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun.

Perkembangbiakan

Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.
Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.
Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh.
Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras),jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak nampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul.
Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Suksesi hutan bakau

Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal, melainkan secara perlahan-lahan bergeser.
Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau.
Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam sampah dan hancuran vegetasi, akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Hutan bakau pun semakin meluas.
Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir sepertiAvicennia alba dan Rhizophora mucronata. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang.
Demikian perubahan terus terjadi, yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau, zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering.
Uraian di atas adalah penyederhanaan, dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas, bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan.
Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya kurang dari itu.

Kekayaan flora

Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau. Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera, anggota dari sekitar 16 suku, yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya.
Dari jenis-jenis itu, sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia; menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui, termasuk jenis-jenis mangrove ikutan, adalah 202 spesies (Noor dkk, 1999).
Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati, beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tomlinson, 1986).

Penyusun utama

Suku
Genus, jumlah spesies
Avicennia (api-api), 9
Laguncularia, 11; Lumnitzera (teruntum), 2
Nypa (nipah), 1
Bruguiera (kendeka), 6; Ceriops (tengar), 2; Kandelia (berus-berus), 1; Rhizophora(bakau), 8
Sonneratia (pidada), 5

Penyusun minor


Paku laut, Acrostichum aureum.
Suku
Genus, jumlah spesies
Acanthus (jeruju), 1; Bravaisia, 2
Fimbristylis (mendong), 1
Excoecaria (kayu buta-buta), 2
Pemphis (cantigi laut), 1
Xylocarpus (nirih), 2
Aegiceras (kaboa), 2
Acrostichum (paku laut), 3
Heritiera (dungun)2, 3

Rujukan dan pranala luar

§                     Anwar, J., S.J. Damanik, N. Hisyam, dan A. Whitten. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatra. Gadjah Mada Univ. Press. Yogyakarta.
§                     Noor, Y.R., M. Khazali, dan I.N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor.
§                     Tomlinson, P. B., 1986: The Botany of Mangroves, Cambridge University Press.

Sabtu, 23 Oktober 2010

G.PENANGGUNGAN ( 1653Mdpl )

Gunung Penanggungan (ketinggian 1.653 mdpl) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia.
Letak gunung berapi tidur ini ini berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.
Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Di masa itu ia dikenal sebagai Gunung Pawitra dikarenakan seringnya puncak dari Gunung tersebut diselimuti oleh kabut atau awan yang mengelilingi disekitar puncaknya.
Gunung Penanggungan ini sering juga digunakan untuk acara acara tertentu mulai dari acara Pendakian Adat, Pendidikan dan latihan dasar Pecinta Alam, Penelitian Ilmiah hingga Upacara Pengibaran sang saka Merah putih.
Penanggungan
Tinggi 1.653 meter (5.423 kaki)
Letak Mojokerto, Jawa, Indonesia
Koordinat  / 7.62°LS 112.63°BT
Jenis Stratovolcano
Listing Spesial Ribu